Sebuah catatan kecil dari Nara dan Edo menjelang Paskah.

Nara adalah seorang pelayan setia di gereja. Ia adalah orang yang pertama datang dan pulang belakangan. Baginya, pelayanan bukan merupakan panggung pencitraan, melainkan ruang cinta yang mendalam. Namun, belakangan ini, senyumnya hanya topeng. Di dalam kamar yang sunyi, Nara merasa imannya sedang sekarat. Doa-doanya terasa seperti surat yang tertahan di kantor pos langit. Tak pernah sampai, tak pernah dibalas.

Dunia menuntutnya sempurna: karier mapan, gaji besar, dan hidup tanpa beban. Saat ia melihat teman-temannya yang jarang ke gereja justru hidup melimpah dengan pekerjaan bergengsi dan liburan mewah, hati Nara perih.

“Tuhan, aku lelah menunggu,” isaknya suatu malam sebelum Paskah. “Gajiku kecil, tekanan kerja besar, dan masa depanku gelap. Apakah setia saja tidak cukup?”

Hening! Tidak ada petir, tidak ada suara dari langit. Hanya air mata yang pecah.

Namun di tengah runtuhnya harapan itu, sebuah kesadaran menyelinap. Nara menyadari bahwa Paskah tidak terjadi dalam semalam. Ada Getsemani yang berdarah dan Golgota yang sepi sebelum ada kebangkitan. Yesus pun pernah merasa ditinggalkan.

“Jika Putra Allah saja harus melewati proses-Nya, mengapa aku ingin segalanya instan?” Dalam hatinya…

Suatu malam, tepat sebelum fajar Paskah, Nara ambruk di lantai kamarnya. Bukan karena sakit fisik, tapi karena beban mental yang seolah mengimpit paru-parunya.

“Aku tidak butuh khotbah motivasi, Tuhan! Aku butuh uang untuk bayar sekolah adikku! Aku butuh ketenangan bahwa masa depanku tidak akan hancur!” teriaknya dalam isak yang tertahan.

Ia menunggu keajaiban. Saldo rekening yang tiba-tiba bertambah? Telepon tawaran kerja impian? Tidak ada. Yang ada hanyalah sunyi yang memekakkan telinga.

Namun, dalam keheningan yang menyakitkan itu, sebuah bisikan nurani muncul “Nara, apakah kamu melayani-Ku karena kamu mencintai-Ku, atau karena kamu ingin Aku membayar tagihanmu?” Dan, DEG!!! Pertanyaan itu menghunjam tepat di ulu hati.

Esoknya, hidup Nara tidak langsung berubah. Pekerjaannya tetap sama, gajinya tidak naik. Namun, cara pandangnya berbeda. Ia menyadari bahwa Tuhan tidak selalu mengubah keadaan, melainkan memperbesar kapasitas hati kita. Tuhan tidak memberikan “lebih banyak”, tapi membuat yang “sedikit” menjadi cukup.

Saat ibadah malam Paskah, di bawah temaram lampu gereja, Nara akhirnya bernapas lega. Ia sadar, Ia tidak sedang menunggu jawaban, ia sedang dibentuk untuk menjadi jawaban. Tuhan sedang membangun sesuatu yang megah di atas reruntuhan egonya.

Lain Nara, lain juga si Edo…

Edo adalah lulusan terbaik di jurusannya dan sudah berdoa agar bisa masuk ke perusahaan minyak internasional. Ia yakin Tuhan akan membukakan jalan karena ia rajin melayani di komisi pemuda. Namun, setiap lamarannya ditolak. Justru temannya yang sering bolos kuliah diterima di sana.

Edo merasa Tuhan “salah arah”. Ia akhirnya terdampar di sebuah LSM kecil di pelosok dengan gaji pas-pasan. Ia kecewa berat.

Dua tahun kemudian, terjadi krisis besar di industri minyak tersebut dan ada PHK massal. Sementara di LSM kecil itu, Edo justru menemukan passion-nya dalam pemberdayaan masyarakat, membangun jaringan internasional yang jujur, dan akhirnya mendapatkan beasiswa penuh ke luar negeri melalui jalur pengabdian tersebut.

Kita harus paham. Kehidupan adalah ruang ujian. Saat ujian berlangsung, seorang guru akan diam. Bukan karena ia tidak peduli atau meninggalkanmu, tapi karena ia sedang mengawasimu mengerjakan soal agar kamu layak naik kelas. Guru yang baik tidak akan memberikan jawaban instan, karena ia ingin kamu tumbuh melalui proses berpikir.

Mungkin saat ini kamu sangat menginginkan pekerjaan di perusahaan A karena gajinya besar, namun pintu itu tertutup rapat meski kamu sudah berdoa puasa. Kamu merasa Tuhan tidak memberi arah.

Tiba-tiba, kamu diterima di perusahaan kecil yang “tampaknya” biasa saja. Di luar pemikiranmu, di sana kamu justru bertemu mentor yang membimbing karaktermu, atau kamu belajar keahlian spesifik yang tidak akan kamu dapat di perusahaan besar. Bertahun-tahun kemudian, kamu baru menyadari bahwa jika dulu kamu masuk ke perusahaan A, mungkin imanmu sudah rontok karena lingkungan yang toksik.

Tuhan tidak memberimu apa yang kamu inginkan (setangkai mawar), karena Ia sedang menanam sebuah taman mawar untukmu di masa depan.

Selamat menikmati berkat Tuhan.