Sebuah catatan kecil menjelang Paskah tentang Dua Hati di Ujung Hidup.

Suara mesin rumah sakit berbunyi pelan. Di sebuah ruang ICU, dua orang pria terbaring di ranjang yang berbeda. Mereka tidak saling kenal, tapi punya satu kesamaan, hidup mereka sama-sama berantakan.

Yang satu bernama Gutul, sedangkan yang satu lagi Robah. Keduanya masuk rumah sakit karena kecelakaan saat melarikan diri setelah melakukan kejahatan.

Percakapan di Tengah Keputusasaan

Gutul menoleh pelan ke arah Robah. “Pal… adi sekalenda kita mate… menurutndu kuja kita?”

Robah pun tertawa kecil, tapi getir.
“Kuja nari? Enggo jelas… labo kita ku ingan simehuli.”

Gutul pun terdiam. Nafasnya terasa berat.
“Tapi… mbiar aku, pal… lenga aku siap mate.”

Hati yang Keras

Beberapa saat kemudian, Gutul berkata lagi dengan nada kesal:
“Adi tuhu kin lit Dibata, uga kita maka bagenda?
Uga maka la sampatina gundari?”

Robah menatap ke langit-langit.

Gutul melanjutkan dengan nada marah:

“Nina, Dibata mehuli… tapi pergeluhku hancur! Adi memang Ia erkuasa, harusna selamatkenna kita gundari!”

Ruang itu menjadi hening.

Hati yang Mulai Lembut

Robah akhirnya menjawab pelan:
“Tul… kita enda enggo salah.”

Gutul langsung menoleh, kesal.
“Maksud mu uga?”

Robah menarik nafas panjang.
“Kita memang pantas lit ibas ingan enda… kerina si lakoken e… enggo jelas salah.”

Gutul pun kemudian terdiam. Untuk pertama kalinya, tidak ada bantahan.

 

Robah menutup matanya sejenak. Dengan suara lemah, dia berkata:
“Kuinget… nai niniku lit katakenna. Yesus e ngaloken kerina manusia, la erpilihen, si jahat pe.”

Gutul pun tertawa sinis.
“Bagi kita? Ula kam nipi-nipin bro!”

Robah pun menggeleng perlahan.
“Justru… bagi kita enda Tul.”

Air mata mulai jatuh dari sudut matanya.

Doa yang Sederhana

Robah berbisik, hampir tak terdengar:
“O Yesus… adi tuhu kam lit, ingetndulah aku…”

“Kadaiku pe lanai lit Bapa…
lanai kueteh mpehulisa geluhku e…”

“Tapi… adi nggit denga kam ngaloken aku… sampati aku… ula tadingkendu aku…”

Sebuah Kedamaian yang Aneh

Beberapa saat setelah itu, wajah Robah berubah. Dia menjadi tenang. Berbeda dari sebelumnya.

Gutul melihatnya dan bertanya pelan:

“Kena kai ko e nak… Enggo dame pusuhmu?”

Robah tersenyum tipis.
“La kueteh uga nak… tapi tek aku… aku lanai sisada…”

Satu Hati Menolak, Satu Hati Pulang

Gutul pun memalingkan wajah.
“La aku tek bam nak… ena perasaanmu saja…”

Namun sesungguhnya di dalam hati Gutul pun, dia gelisah. Dia ingin percaya, tapi hatinya tetap keras.

Kisah yang sama, seperti di Salib

Cerita ini sebenarnya bukan hal baru. Dulu, di kayu salib, ada dua orang seperti mereka.

Dalam Lukas 23:39-43 dikatakan:
Yang satu menghina Yesus…
Yang satu berkata:
“Yesus, ingatlah akan aku…”

Dan Yesus menjawab:
“Hari ini juga engkau akan bersama-sama dengan Aku di Firdaus.”

Refleksi untuk kita…

Kita mungkin tidak berada di ICU.
Kita mungkin tidak melakukan kejahatan seperti mereka. Tapi di hadapan Tuhan…
kita semua sama-sama membutuhkan pengampunan.

Ada yang seperti Gutul:
masih menyalahkan Tuhan, masih menolak.

Ada juga yang seperti Robah:
datang dengan hati hancur, tapi percaya.

Pertanyaan yang penting
Kalau hari ini adalah hari terakhir kita…

Kita akan jadi seperti siapa?

Yang terus menolak kah?
Atau yang berani berkata:
“Tuhan, ingat aku…”

Tuhan tidak mencari orang yang sempurna. Tuhan mencari hati yang mau kembali.

SELAMAT MENIKMATI BERKAT TUHAN…

 

Refleksi Kalau Aku Mati Hari Ini - GBKP KM 8

https://alkitab.sabda.org/passage.php?passage=Luk%2023:34,39-43&mode=text
gbkpkm8.or.id