Sebuah catatan kecil menjelang Paskah.
Di sebuah kota kecil, ada dua orang pemuda aktif di gereja: Ucok dan Nongat. Keduanya terlihat sama-sama rajin melayani. Mereka sering hadir di ibadah, ikut kegiatan sosial, bahkan menjadi panitia saat menjelang Paskah.
Suatu hari, gereja mereka mengadakan aksi sosial untuk membantu keluarga kurang mampu. Banyak jemaat memberi dengan sukacita. Namun, ada satu hal yang menarik perhatian.
Seorang ibu sederhana bernama Maria datang membawa sebuah kotak kecil. Di dalamnya ada uang tabungan yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun. Tanpa ragu, ia menyerahkan semuanya untuk pelayanan.
Ucok melihat itu dan langsung berkomentar,
“Wah, kenapa tidak dipakai saja untuk kebutuhan pribadi? Bisa untuk bayar listrik, sekolah anak, atau hal penting lainnya. Ini terlalu berlebihan.”
Sekilas, ucapan Ucok terdengar sangat bijak dan peduli. Bahkan beberapa orang mengangguk setuju.
Namun, si Nongat yang berdiri di sampingnya hanya diam. Ia tahu sesuatu tentang Ucok. Ucok sering terlihat “paling peduli”, tapi diam-diam suka mencari keuntungan dari setiap kegiatan. Kadang ia berharap dipuji, kadang ia ingin terlihat paling rohani.
Sementara itu, Maria tersenyum. Ia berkata pelan,
“Saya memberi bukan karena saya punya banyak… tapi karena saya tahu Tuhan sudah memberi saya lebih dulu.”
Kata-kata itu sederhana, tapi menusuk hati.
Malam harinya, Nongat merenung. Ia teringat kisah dalam Alkitab tentang Injil Yohanes pasal 12 tentang Maria yang meminyaki kaki Yesus dan Yudas yang mengkritiknya.
Tiba-tiba ia sadar…
Kadang, kita bisa terdengar “benar” seperti Yudas, bicara soal logika, efisiensi, bahkan kepedulian sosial. Tapi hati kita belum tentu benar.
Sebaliknya, ada orang-orang seperti Maria, yang mungkin terlihat “berlebihan”, tapi sebenarnya mereka memberi karena cinta kepada Yesus.
Beberapa hari kemudian, saat ibadah menjelang Paskah, pendeta menyampaikan tentang pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib.
Di tengah ibadah itu, Ucok tiba-tiba merasa gelisah.
Ia mulai bertanya dalam hatinya:
“Aku melayani selama ini… untuk siapa sebenarnya? Untuk Tuhan… atau untuk diriku sendiri?”
Ia teringat betapa sering ia ingin dipuji, ingin dilihat, bahkan diam-diam kecewa saat tidak mendapatkan “balasan”.
Hari itu, tanpa disadari, air matanya jatuh.
Paskah bukan hanya tentang mengenang kematian dan kebangkitan Yesus.
Paskah adalah tentang hati.
Tentang apakah kita datang kepada Yesus dengan hati yang tulus…
atau dengan hati yang sedang “menghitung”.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering ada di posisi seperti itu:
Saat memberi persembahan, apakah kita memberi dengan sukacita… atau sambil berpikir “ini rugi”?
Saat melayani, apakah kita ingin memuliakan Tuhan… atau ingin dilihat orang?
Saat Tuhan tidak memberi apa yang kita harapkan, apakah kita tetap setia… atau mulai menjauh?
Kisah Ucok mengingatkan kita:
Kita bisa terlihat rohani di luar, tapi kosong di dalam.
Namun kabar baiknya…
Yesus tidak datang untuk orang yang sempurna. Ia datang untuk orang yang mau jujur dan bertobat.
Seperti Yesus tetap mengasihi Yudas, bahkan membasuh kakinya…
begitu juga Yesus masih mengasihi kita hari ini.
Pertanyaannya sekarang:
Menjelang Paskah ini…
kita mau jadi seperti siapa?
Seperti Yudas yang sibuk “menghitung”…
atau seperti Maria yang memilih “mengasihi”?
Karena pada akhirnya,
Yesus tidak melihat seberapa besar yang kita beri…
tetapi seberapa tulus hati kita datang kepada-Nya.