Setiap orang tentu pernah menghadapi kekurangan dan menikmati kelebihan dalam hidupnya. Namun, belum tentu semua orang tahu bagaimana belajar dari keduanya. Dalam buku Lagom: Filosofi hidup orang Swedia untuk hidup yang lebih santai, yang ditulis oleh Lola A. Åkerström seorang penulis yang juga fotografer berdarah Nigeria-Amerika dan tinggal di Swedia, menggambarkan Lagom sebagai seni menyeimbangkan antara keinginan dan kebutuhan, antara ambisi dan kedamaian.

Istilah Lagom dikenalkan oleh orang Swedia yang dianggap sebagai sebuah rahasia “Hidup Santai” (baca:Bahagia) konsep tersebut, menggambarkan bukan tentang hidup miskin atau menolak kemajuan, melainkan tentang menjalani hidup yang cukup: tidak kurang dan tidak lebih! Sebuah cara menjalani kehidupan, mengajak untuk berhenti sejenak, menengok ke dalam diri, dan bertanya: sebenarnya, apakah kita butuh lebih banyak, atau hanya perlu cukup saja?

Belajar dari kekurangan bukan berarti menyerah. Kekurangan bisa menjadi ruang untuk menyadari apa yang benar-benar penting. Lola A. Åkerström menulis bahwa “di dalam hidup yang cukup, ada ketenangan yang tidak bisa dibeli oleh gaji yang tinggi atau jabatan yang panjang.” Ini tentu sejalan dengan surat Rasul Paulus yang ditulis dalam Filipi 4:11, “Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.” Paulus tidak menolak kekayaan atau kenyamanan, tetapi ia menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati lahir dari kemampuan untuk merasa cukup, meski dalam kekurangan apalagi saat berlebih.

Sebaliknya, kelebihan pun tidak selalu membawa kebahagiaan. Buku Lagom mengajak kita untuk memandang kelebihan dengan bijak. “Kesuksesan yang tidak minta sorotan” menjadi pengingat bahwa pencapaian bukanlah ajang untuk pamer, tetapi sarana untuk memberi manfaat. Rasul Paulus menulis dalam Filipi 4:12 bahwa ia tahu bagaimana hidup dalam kekurangan maupun dalam kelimpahan. Artinya, keberhasilan pun harus ditempatkan dalam kerangka yang seimbang. Kita tidak dilarang untuk bersinar, tetapi diajak untuk tetap memberi ruang bagi orang lain, dan pentingnya prinsip untuk tidak mengizinkan sinar kita menyilaukan orang lain.

Filosofi Lagom sangat relevan dalam dunia digital yang serba cepat dan penuh tuntutan seperti saat sekarang ini. Dalam bukunya, Lola A. Åkerström menggambarkan hidup seperti “pelancong tua” yang mengajak kita duduk, minum teh, dan berkata: “Kau tidak harus menang hari ini! Kita hanya perlu hadir sepenuhnya.” Ini mengajarkan kita untuk tidak terjebak dalam perlombaan yang tak pernah ada ujungnya.

Rasul Paulus pun menuliskan dalam Filipi 4:13 “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Yesus Kristus yang memberi kekuatan kepadaku.” Ayat ini bukan seruan untuk terus-menerus menang, tetapi mengajak untuk berjalan bersama Tuhan, dengan ritme yang tidak membebani jiwa.

Falsafah Lagom juga mengajarkan bahwa hidup yang tertata bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk meringankan perjalanan. Prinsip ini selaras dengan semangat kerendahan hati dalam kekristenan. Rumah sebenarnya bukan tempat untuk menunjukkan status, tapi ruang untuk beristirahat dan pulih dari penatnya kehidupan. Makanan bukan untuk menunjukkan selera yang tinggi, tapi lebih dari itu, yakni mempererat hubungan. Bahkan kebahagiaan pun demikian, tidak perlu diumbar ke seluruh penghuni dunia maya.

Seperti yang ditulis dalam Filipi 4:10, Paulus bersyukur atas perhatian jemaat Pilipi, namun ia menegaskan bahwa rasa syukur itu tidak tergantung pada seberapa banyak yang ia terima, tetapi pada cinta yang tulus dan cukup.

Dari semua ini, kita belajar bahwa Lagom bukanlah gaya hidup asing yang hanya relevan bagi orang Swedia. Sebaliknya, Lagom merupakan nilai-nilai universal yang juga sejalan dengan prinsip Alkitab. Hidup yang cukup, penuh syukur, tidak pamer, dan tidak membebani orang lain. Itu adalah hidup yang sehat secara rohani dan sosial. Dalam kekurangan, kita belajar menerima. Dalam kelebihan, kita belajar untuk berbagi. Dan di antara keduanya, kita belajar untuk hidup seimbang.

Surat Rasul Paulus kepada jemaat Pilipi dan buku Lagom yang ditulis Lola A. Åkerström mengajak kita untuk menemukan kekuatan bukan dalam pencapaian semata, tapi dalam ketenangan batin. Bahwa hidup yang tidak gaduh adalah tempat di mana suara Tuhan bisa terdengar lebih jelas dan tegas.

Bahwa dalam hidup yang berkecukupan, kita menemukan indahnya berserah. Bahwa dalam menyeimbangkan keinginan dan kebutuhan, kita menjadi manusia yang utuh seperti yang diinginkan Tuhan. Seperti kata Paulus, “Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.” Dan seperti pesan Lagom bagi orang Swedia, hidup cukup dan selalu bersyukur itu buahnya indah…

Oleh: Dk. Kadri Boy Tarigan, S.Sos., M.I.Kom.