Beberapa waktu yang lalu, nama Jeffrey Epstein kembali mencuat seiring dibukanya dokumen-dokumen rahasia ke publik. Beberapa media nasional memberitakan skandal tersebut seperti Kompas, BBC, detikNews dan BeritaSatu. Sontak saja, banyak orang terkejut, marah, dan jijik melihat perilaku para elit yang terlibat dalam lingkaran gelap itu.
Hasil kacamata google, Jeffrey Epstein (1953–2019) adalah pemodal dan pelaku kejahatan seks anak yang menggunakan kekayaannya untuk membina jaringan elit. Menggunakan jaringan sosial (terutama dibantu Ghislaine Maxwell) untuk merekrut gadis muda melalui “grooming” berkedok peluang karir atau uang, yang kemudian diperdagangkan kepada rekan-rekan elitnya. Pada 2019, Jeffrey Epstein ditangkap kembali atas dakwaan perdagangan seks dan ditemukan tewas di selnya di Manhattan yang dinyatakan sebagai bunuh diri.
Namun, jika kita melihat lebih dalam melalui kacamata iman, ada persoalan yang jauh lebih mendasar daripada sekadar “seks bebas” atau “penyimpangan moral”. Ini adalah soal Penyembahan Berhala Modern .
Pintar Secara Dunia, Namun “Bodoh” Secara Rohani
Dunia sering memuja orang-orang sukses, miliarder, dan jenius. Namun, Alkitab dalam Roma 1:22 memberikan diagnosa yang tajam: “Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh.” Kepintaran intelektual tidak menjamin kesehatan rohani. Kasus bangunan menyerupai kuil di pulau pribadi Epstein menunjukkan bahwa bagi para elit ini, tindakan mereka bukan sekadar pemuasan nafsu, melainkan sebuah “Teknologi Spiritual”. Mereka melakukan ritual untuk mendapatkan kuasa, pengaruh, dan kendali atas dunia.
Inti dari Penyembahan Berhala: Sebuah Transaksi
Banyak dari kita berpikir penyembahan berhala hanya soal sujud di depan patung batu. Padahal, esensi dari penyembahan berhala adalah Transaksi. Rumusnya sederhana: “Saya mengorbankan sesuatu yang murni/berharga, demi mendapatkan ambisi atau kekuasaan.”
Inilah alasan mengapa dalam sejarah kuno maupun kasus modern, “kemurnian” (seperti anak kecil) sering menjadi korban. Itu adalah bentuk “pertukaran” demi mendapatkan kekuatan gelap untuk mendominasi orang lain.
“Liturgi Gelap” dalam Kehidupan Kita Sehari-hari
Agar kita tidak sekadar menghujat orang di luar sana, kita perlu bercermin. Apakah kita juga menjalankan “liturgi gelap” dalam skala yang lebih kecil?
Mengorbankan Keluarga demi Karier. Seorang ayah atau ibu misalnya, Bekerja tanpa henti, mengejar jabatan dan kekayaan, namun membiarkan anak-anaknya tumbuh tanpa kasih sayang dan kehadiran orang tua. Secara tidak sadar, ia sedang “mengorbankan” masa depan anaknya di atas mezbah ambisi pribadinya.
Memberi persembahan atau melayani di gereja bukan karena cinta pada Tuhan, tetapi karena berharap Tuhan “wajib” membalasnya dengan kelimpahan materi. Ini bukan ibadah, melainkan transaksi bisnis dengan Tuhan.
Kemudian, menghalalkan segala cara, menyebar fitnah, atau menjatuhkan rekan kerja demi posisi tertentu. Ini adalah prinsip “Saya memangsa hidupmu, supaya saya bisa berkuasa.”
Liturgi Iblis vs Liturgi Kristus
Hidup di dunia ini hanya ada dua cara yakni:
1. Liturgi Iblis (Dunia): Prinsipnya adalah “Saya mengorbankan KAMU yang lemah, supaya SAYA bisa hidup dan berkuasa.” Fokusnya adalah eksploitasi.
2. Liturgi Kristus (Injil): Prinsipnya adalah “Kristus mengorbankan DIRI-NYA sendiri, supaya KAMU yang berdosa bisa hidup.” Fokusnya adalah pengorbanan diri dan kasih.
Mari Hancurkan “Kuil” di Hati Kita
Kasus Epstein adalah cermin raksasa yang menunjukkan betapa gelapnya hati manusia jika sudah haus akan kuasa. Namun, jangan hanya sibuk mengutuk kegelapan di luar sana.
Mari kita periksa “Kuil Ego” di dalam hati kita masing-masing. Apakah kita masih sering menjadikan orang lain atau bahkan Tuhan sebagai alat transaksi untuk kepentingan kita? Marilah kita kembali kepada Kristus, yang tidak menuntut darah kita, melainkan telah memberikan darah-Nya sendiri agar kita bisa hidup dalam kebenaran yang sesungguhnya.
Dosa bukan cuma soal moral, tapi soal siapa/apa yang kita sembah. Penyembahan berhala modern adalah saat kita mengorbankan nilai-nilai murni demi ambisi pribadi. Ibadah yang sejati adalah memberi hidup, bukan memangsa hidup orang lain.
Selamat Menikmati Berkat Tuhan